img
SITUS RESMI DPRD KABUPATEN BANDUNG

Breaking News

Ketua Komisi C: Ada Beberapa Faktor Penyebab Bencana

ketua-komisi-c-ada-beberapa-faktor-penyebab-bencana

Ketua Komisi C DPRD Kab. Bandung dari Fraksi Golkar, H. Yanto Setianto, mengatakan, ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya banjir juga bencana lainnya.

Salah satu yang menyebabkannya banjir, Yanto menambahkan, karena lebarnya Saluran air yg tidak sesuai dengan kapasitas dan volume air. Sehingga air meluap ke jalan. Selain itu, tidak dilakukannya pengerukkan sedimen bisa juga mempengaruhi hal itu.

“Karena semakin dibiarkan sedimen bertumpuk maka akan semakin bertambah ketinggian air, sehingga meluap ke jalan,” katanya via telepon, Senin (11/1/2021).

Sementara untuk bencana longsor, menurutnya, dikarenakan kurangnya pohon berakar yang menahan laju air di bawah tanah. Dan kerusakan alam sehingga mempengaruhi tatanan hukum tata ruang yang mengakibatkan tanah tergerus. Dampak daripada itu, lanjut dia, sudah pasti akan terjadi longsor.

Jadi kerusakan alam dan drainase, disebutkan dia, akan mengakibatkan dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat. Karena imbasnya akan dirasakan langsung oleh masyarakat.

Dia mengingatkan, pembuangan sampah sembarangan yang terbawa arus air masuk solokan terutama sampah plastik, stereoform yg tidak mudah hancur oleh masa, bisa menjadi penyebab terjadinya bemcana. Demikian juga terhadap lingkungan hidup bisa mempengaruhi tatanan alam.

“Tapi untuk banjir bisa jadi dikarenakan kurang sempurnanya, bahkan mungkin belum adanya master plan pembuatan drainase. Karena prinsipnya air mengalir dari dataran tinggi ke dataran yg lebih rendah,” ujar dia.

Sehingga untuk mengatasi banjir harus dibuat master plan yg komprehensif, mana lahan yang harus dihutankan dan mana lahan pemukiman yang harus dilengkapi drainase yang memadai, dan daerah mana yang harus dibuat kolam retensi.

Yanto memberikan salah satu contoh, yaitu, kolam retensi yang baru dibangun di Desa Citeureup Kec. Dayeuhkolot secara teori dapat menampung air 30 ha, dari daerah permukiman penduduk. Tapi kalau dipermukiman tersebut tidak disediakan drainase yang memadai, air tidak akan masuk ke kolam retensi yang dibangun BBWS senilai Rp6 milyar tersebut.

“Di Desa Dayeuhkolot khususnya RW04 dan RW08, selalu banjir kalau hujan agak besar. Sebab daerahnya berada di cekungan sehingga untuk mengalirkan ke Citarum agak sulit,” imbuh dia.

Karena daerah itu, dijelaskan dia, di kiri dan kanannya Citarum di buat tanggul hasil pengerukan. Untuk solusinya harus ada kolam retensi di wilayah itu. Dari kolam retensi selanjutnya dipompa ke citarum.

Trending